3/13/2013

MAKALAH tentang tipologi berdasarkan budaya



BAB I
PENDAHULUAN


Beberapa aspek penting yang dapat dijadikan pangkal pembagian tipologi , adalah kebudayaan, artinya kepribadian seseorang/manusia dipengaruhi oleh budaya yang dialaminya. Kehidupan manusia dipengaruhi oleh kebudayaan-kebudayaan yang berada di sekitarnya, ataupun di lingkungan hidupnya sehari-hari. Demikian esensialnya kepribadian manusia dengan kebudayaan dalam hidup, dengan sendirinya menimbulkan sesuatu tipologi tersendiri.

Kebudayaan menurut K.H. Dewantara adalah hasil budi daya manusia yang dapat dipergunakan untuk memudahkan hidup manusia. Pada usaha-usaha kebudayaan yang berlangsung, yang sudah lama silih berganti, selalu terdapat orang-orang yang ditentukan oleh kebudayaan tersebut. Adapula tipologi yang didasarkan atas pandangan hidup dan minat manusia itu sendiri, yang menitikberatkan bagaimana pendirian tiap-tiap orang terhadap nilai-nilai kebudayaan, sebagai akibat pembawaannya, lingkungan tempat ia dibesarkan dan pendidikannya.

Ada beberapa tokoh yang mengemukakan kepribadian manusia yang di dalam teorinya menggunakan dasar kebudayaan, yakni :
a.    Riesman
b.    E. Spranger
c.     W & E Yeansch
Dalam makalah ini akan diuraikan tipologi manusia berdasarkan kebudayaan menurut tokoh-tokoh tersebut.





BAB II
PEMBAHASAN



A.          TIPOLOGI BERDASARKAN KEBUDAYAAN MENURUT RIESMAN
Hanya menggolongkan manusia atas 3 (tiga) golongan, yaitu :
1.     Orang-orang yang pribadinya ditentukan oleh tradisi,
2.    Orang-orang yang membiarkan dirinya di pimpin oleh rohaninya, dan
3.    Orang-orang yang mendasarkan dirinya pada norma-norma yang dikemukakan oleh orang lain kepadanya.
Riesman menganggap dapat memperlihatkan bahwa periode kebudayaan yang lama saling menyusul satu sama lain di mana pada pokoknya terdapat orang-orang yang selalu termaksud satu diantara ketiganya.

B.           TIPOLOGI BERDASARKAN KEBUDAYAAN MENURUT E. SPRANGER
Menurut Spranger, kehidupan manusia ini dipengaruhi oleh dua macam kehidupan jiwanya, yaitu jiwa obyektif dan jiwa subyektif.
  • Jiwa obyektif ialah totalitas kehidupan rokhaniah manusia, suatu totalitas nilai-nilai yang ada di luar manusia individual. Jiwa obyektif mencakup pula nilai kebudayaan, lapangan nilai, konstanten yang memberi arah, tujuan hidup yang umum abadi, kesemuanya itu turut membentuk kehidupan manusia.
  • Jiwa subyektif ialah jiwa individual yang merupakan suatu struktur yang tertentu yang tertuju kepada perwujudan nilai dan bila kita ingin mengerti jiwa manusia maka haruslah ia pandang sebagai anggota daripada struktur yang lebih tinggi

Menurut Spranger, manusia dapat dibedakan atas 6 (enam) nilai kebudayaan, yaitu :
1.   Manusia Ekonomis
Pada umumnya tipe ini penuh dengan cita-cita yang praktis. Suatu perbuatan tertentu hanya akan berharga baginya kalau efek perbuatan itu bermanfaat. Pada pokoknya dalam hidupnya segala sesuatu baik pribadi maupun waktunya dibaktikannya kepada perjuangan hidup dan selalu mencari kehidupan yang menggembirakan dan menyenangkanl. Jadi manusia ekonomis itu selalu menimbanga segala-galanya dari sudut faedah dan niai ekonomisnya saja. Begitu pula terhadap ilmu pengetahuan hanya ada harganya bila ilmu pengetahuan itu penting bagi manusia, dalam arti dapatkah ilmu pengetahuan itu memudahkan dan menyenangkan hidup manusia. Terhadap masyarakat pendirian manusia ekonomis itu bersifat egocentris, bahkan juga egoistis. Ia hanya mementingkan dirinya sendiri. Ia menimbanga orang berdasarkan kekuatan bekerja dan prestasi orang itu. Mengenai dunia estetika dan dunia kesenia pada umumnya kurang begitu menarik bagi mereka. Dengan singkat dapat kita katakan bahwa manusia ekonomis itu cita-citanya ialah bekerja.

2.   Manusia Berkuasa (Politik)
Manusia tipe ini tidak begitu mengenal obyektivitas dan alasan-alasan aestetis tidak penting baginya. Segala pikirannya dipusatkan pada satu hal satu tujuan. Ingin berkuasa, menjajah, memerintah, dan ini merupakan kegembiraan hidupnya.
Hal-hal yang ada hubungannya dengan ekonomi kadang-kadang sangat penting bagi manusia ingin berkuasa ini. Sebab menurut dia kekuasaan ekonomi kadang-kadang merupakan salah satu jalan untuk menguasai orang lain. Jadi ekonomi itu hanya merupakan alat saja baginya, sedang dia sendiri tidak perlu bersifat ekonomi.
Kalau dia bergerak dalam lapangan aestetika, hal ini dipergunakannya sebagai jalan untuk mencapai tujuannya. Tidak jarang keindahan itu digunakan sebagai lambang kekuasaan.
Pegangganya orang ingin berkuasa itu harus punya fantasi besar. Sebab menurut dia rencana-rencana yang besar tidak dapat dibuat tanpa adanya fantasi. Juga menurut mereka ini bahwa kebijakan yang setinggi-tingginya ialah kekuatan.
Pokoknya segala sesuatu ditujukan kepada kekuasaan dan kekuatan diri sendiri. Dalam hal ini kekuasaan negara disamakan dengan kekuasaan diri sendiri. Cita-citanya ialah raja dan pemerintah.

3.   Manusia Sosial
Manusia sosial dalam pokok hidupnya ialah seseorang yang mengabdi kepada sesamanya. Nilai-nilai yang tertinggi dan terbesar yang tersimpul dalam pengabdian ini ialah kecintaan.
Menurut Spranger kecintaan itu dapat ditujukan sesorang atau orang lain dalam lingkungan terbatas, tetapi kecintaan itu dapa pula meliputi segala-galanya. Manusia sosial mencintai tanpa mengharapkan apa-apa, ia menyerahkan jiwa raganya untuk orang lain. Dia tidak bertanya siapa yang benar atau apakah sesuatu itu betul, yang penting ialah sedapat mungkin ia memberik pertolongan.
Antara sifat-sifat sosial dan aestetis tampaknya seolah-olah tak ada perbedaann. Tapi kadang-kadang sebaliknya, manusia sosial mengindahkan pula orang yang hina, yang sangat membutuhkan pula kecintaan, sebaliknya orang aestetis sering menjauhkan diri dari mereka itu dengan perasaan mual, jijik dan sebagainya.
Manusia social semboyannya ialah berbakti kepada orang lain. Sebaliknya tipe social yang murni itu hampir tidak ada di dunia ini. Sebab kebanyakan apa yang disebut nilai sosial itu sudah terjalin dengan nilai lain. Misalnya tiap perbuatan baik yang telah kita lakukan seakan-akan selalu mempengaruhi perasaan kita sendiri yaitu perasaan telah menjadi orang baik. Jadi terang di sini kalau cinta diri ikut berbicara pula.

4.   Manusia llmu Pengetahuan (Teoritis)
Manusia teoritis ini biasanya seorang ahli ilmu pengetahuan yang tipis. Dia mempelajari ilmu pengetahuan itu untuk ilmu pengetahuan itu sendiri, tanpa memikir manfaat yang praktis dan hasil-hasil ilmu pengetahuan itu.
Pendiriannya obyektif terhadap segala hal/masalah. Selalu mencoba mencari ketarangan-keterangan yang logis dan masuk akal tentang hal-hal yang menimbulkan masalah itu. Sedikit pun ia tidak suka kepada sesuatu yang bersifat samara-samar. Segala sesuatu harus terang dan jelas. Pada umumnya manusia teoritis ini tidak memperdulikan uang dan kenikmatan.
Hal-hal yang aestetis pun hampir tidak diperdulikannya. Dalam lapangan sosial tidak begitu banyak yang diharapkan daripadanya. Ia jarang mencari hubungan dengan tetangganya dan orang lain.
Bahkan kadang-kadang ia menganggap rendah orang banyak. Dalam lapangan politik kalau manusia teoritis ini menceburkan diri paling-paling akan menjadi seorang pembangunan sisitem teoritis, yang tidak selaras dengan praktek kehidupan sehari-hari. Cita-cita dari tipe ini tidak lain ialah berpikir dan belajar.
Politknya akan selalu bersifat ilmu pengetahuan dan teoritis. Kerapkali orang teoritis ini tidak aktif, sebab itu ia selalu memperhatikan pada masalah-masalah yang terbatas dan tidak jelas mengambil keputusan-keputusan.



5.   Manusia Kesenian (Aestetis)
Pada umumnya manusia aestetis ini cenderung kepada perseorangan (individualisme). Atau dengan kata lain hak-hak pribadi lebih penting baginya dari pada hak-hak golongan. Kalaupun dia bergabung dengan orang lain hal itu biasanya tidaklah mendalam dan hanya sepintas lalu. Dapat kita katakana bahwa manusia aestetis itu tidak berada dalam hidup yang sebenarnya. Dia akan melihat sesuatu yang indah itu sebagai nilai tertinggi. Ia selalu berusaha melepaskan diri dari segala permintaan, tuntutan yang diajukan orang lain kepadanya.
Cita-cita manusia aestetis ini ialah menikmati hal-hal disekitarnya.

6.   Manusia Agama (Religi)
Manusia religi mencari nilai-nilai tertinggi pada makna hidup, ia mencari TUHAN. Dia tidak akan tentram, belum puas, bahkan kadang-kadang merasa tersayat, apabila ia belum mendapat kepastian akan hal itu. Sebaliknya ia merasa ketenangan dan ketentraman apabila ia telah mendapatkan nilai-nilai tertinggi tadi. Memang keistimewaan dari manusia religi ini ialah ia mencari nilai-nilai tertinggi dan memujanya sekali.

Diantara keenam itu, nilai kebudayaan manakah yang paling besar pengaruhnya terhadap jiwa subyektif dan inilah yang menentukan tipe manusia itu. Jadi kalau sedemikian ada 6 (enam) tipe manusia, yaitu:
·         Manusia ekonomi
·         Manusia politik
·         Manusia sosial
·         Manusia ilmu pengetahuan
·         Manusia kesenian
·         Manusia agama

Adapun sifat-sifatnya, yaitu :
Manusia Ekonomi bersifat :
Œ  Senang bekerja
  Senang mengumpulkan harta
Ž  Agak kikir
  Bangga dengan hartanya
Manusia Politk, bersifat :
Œ  Ingin berkuasa
  Tidak ingin kaya
Ž  Berusaha menguasai orang lain
  Kurang mencintai kebenaran
Manusia sosial, bersifat :
Œ  Senang berkorban
  Senang mengabdi kepada Tuhan
Ž  Mencintai masyarakat
  Pandai bergaul
Manusia Ilmu Pengetahuan, bersifat :
Œ  Senang membaca
  Gemar berfikir dan belajar
Ž  Tidak ingin kaya
  Ingin serba tahu
Manusia Seni, bersifat :
Œ  Hidup bersahaja
  Senang menikmati keindahan
Ž  Gemar mencipta
  Mudah bergaul dengan siapa saja
Manusia Agama, bersifat :
Œ Hidupnya hanya untuk Tuhan  dan Akhirat
  Senang memuja
Ž  Kurang senang harta
  Senang menolong orang lain


Nilai Kebudayaan              Tipe Manusia           Ciri Ringkas
Ekonomi                                    Manusia Ekonomis        Ia Bekerja
Ilmu Pengetahuan                      Manusia Teoritis            Ia Berpikir
Kesenian                                     Manusia Aestetis            Ia Menikmati
Agama                                       Manusia Religi               Ia Memuja
Politik/Negara                           Manusia Berkuasa          Ia Menguasai
Masyarakat                                Manusia Sosial               Ia Berbakti


C.          TIPOLOGI BERDASAKAN KEBUDAYAAN MENURUT W & E. YAENSCH
Tipologi W & E Yaensch ini agak lain dasar penggolongannya, karena didasarkan kepada unsure geologi dan unsure tubuh.
1.     Unsur Geologis
Keadaan tanah tertentu mempengaruhi pula kehidupan seseorang, lewat air tanah, yang menghidupi penghuni-penghuninya.
2.    Unsur Tubuh
Juga kehidupan seseorang tertentu dipengaruhi oleh kelenjar-kelenjar tubuhnya, misalnya kelenjar gondok, anak kelenjar gondok, dan kelenjar-kelenjar lain.

Dengan hanya mendasarkan kedua factor tersebut, W & E Yaensch juga hanya menggolongkan manusia atas 2 (dua) tipe pula, yaitu; Tipe T dan Tipe B.
T adalah singkatan dari Tetanoide dan B adalah singkatan dari Basedowide.
¨       Tipe Tetanoide, dengan cirri-cirinya :
þ  Muka pucat
þ  Selalu bersuasana sedih
þ  Matanya kecil dan dalam
þ  Tanggapannya tak bergerak
þ  Pendiam
þ  Selalu curiga kepada orang lain
þ  Segala sesuatunya dipandang berat

¨       Tipe Basedowie, dengan cirri-cirinya :
þ  Mukanya terbuka
þ  Wajahnya mudah perubah
þ  Matanya hidup dan melotot keluar
þ  Tanggapannya bergerak
þ  Banyak berpendapat
þ  Mudah bergaul dengan orang lain




BAB III
KESIMPULAN


Ada 3 (tiga) tokoh yang mengemukakan tipologi manusia berdasar kebudayaan, yakni Riesman, E. Spranger, dan W & E Yeansch.

Riesman menggolongkan manusia dalam 3 tipe yaitu :
  1. Orang-orang yang pribadinya ditentukan oleh tradisi
  2. Orang-orang yang membiarkan dirinya dipimpin oleh rohaninya
  3. Orang-orang yang mendasarkan dirinya pada norma-norma yang dikemukakan oleh orang lain kepadanya.

Menurut Spranger, bahwa kehidupan manusia dipengaruhi oleh kehidupan jiwa, yakni jiwa obyektif dan jiwa subyektif, sehingga manusia digolongkan dalam 6 tipe, yaitu :
  1. Manusia Ekonomi
  2. Manusia Politik
  3. Manusia Sosial
  4. Manusia Ilmu Pengetahuan
  5. Manusia Kesenian
  6. Manusia Agama

Menurut W & E Yaensch, penggolongan tipe manusia didasarkan pada unsur geologi dan unsur tubuh manusia itu sendiri, sehingga ada 2 tipe manusia, yaitu :
a. Tipe Tetanoide
b. Tipe Basedowide




DAFTAR PUSTAKA

Joesoef, Soelaiman Drs. 1981. Psychologi Umum Bagian Typology. Usaha Nasional. Surabaya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar